pada kesempatan yg baik ini saya mau berbagi tentang karya tulis sobat yg mau liat contoh bisa dicopy langsung aja disini:
A. JUDUL: pendekatan holistik pada gangguan jiwa, SKIOFRENIA
B. KATA PENGANTAR:
I
+ S R.
A. JUDUL: pendekatan holistik pada gangguan jiwa, SKIOFRENIA
B. KATA PENGANTAR:
Puji
syukur penulis panjatkan ke hadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan kemudahan kepada penulis,
sehingga dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul Pendekatan Holistik pada
Gangguan Jiwa , SKIZOFRENIA ini dengan baik.
Karya tulis ini disusun
dalam rangka memenuhi tugas mata
pelajaran bahasa Indonesia dan untuk
menambah wawasan pengetahuan penulis.
Banyak kendala yang
penulis hadapi dalam rangka penyusunan karya tulis ini. Namun berkat bantuan
berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini. Untuk itu, penulis
dengan tulus menyampaikan terima kasih kepada:
1.
Bapak/ibu guru. selaku guru pelajaran bahasa Indonesia yang telah
membimbing penulis dalam menyelesaikan karya tulis ini
2.
Papa dan Mama yang telah mendukung
dan memfasilitasi
Penulis menyadari bahwa
karya tulis ini masih banyak kekurangan.
Untuk itu, kritik dan saran pembaca sangatlah penulis harapkan. Semoga karya
tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca pada umumnya.
Jakarta,
Februari 2014 Penulis,
Nama Penulis
C. DAFTAR ISI:
JUDUL…………………………………………………………. i
KATA
PENGANTAR………………………………………. … ii
DAFTAR
ISI…………………………………………………… iii
BAB
I PENDAHULUAN……………………………………… 1
1.1 LATAR BELAKANG……………………... 1
1.2
PERMASALAHAN……………………….. 2
1.3
TUJUAN PENULISAN…………………… 3
1.4
MANFAAT PENULISAN………………… 3
BAB
II ISI……………………………………………………... 4
2.1 ORGANOBIOLOGIK…………………….. 4
2.2 PSIKODINAMIK……................................. 8
2.3 PSIKORELIGIUS…………………………. 10
2.4 PSIKOSOSIAL……………………………. 13
BAB
III PENUTUP…………………………………………… 16
3.1 KESIMPULAN……………………………. 16
3.2
SARAN…………………………………….. 16
DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………. 17
D. BAB 1 PENDAHULUAN:
1.1
LATAR
BELAKANG
Hingga sekarang penanganan penderita Skizofrenia
belumlah memuaskan, hal ini terutama terjadi di negara-negara yang sedang
berkembang, disebabkan ketidaktahuan (ignorancy)
keluarga maupun masyarakat terhadap jenis gangguan jiwa ini. Di antaranya
adalah masih terdapatnya pandangan yang
negatif (stigma) dan bahwa Skizofrenia bukanlah suatu penyakit yang dapat
diobati dan disembuhkan. Kedua hal tersebut di atas menyebabkan penderita Skizofrenia
mengalami perlakuan diskriminatif dan tidak mendapatkan pertolongan yang
memadai. Hal
inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa penulis tertarik untuk menulis
tentang PENDEKATAN
HOLISTIK PADA GANGGUAN JIWA, SKIZOFRENIA.
Penyakit Skizofrenia sebetulnya sudah lama dikenal
berabad-abad yang lalu, namun baru kira-kira seratus tahun yang lalu uraian
penyakit ini dapat ditemui dalam kepustakaan kedokteran di masa itu. Menurut
catatan sejarah adalah 4 ilmuwan (dokter) yang merupakan tokoh konseptor
Skizofrenia, yaitu Hughlings Jackson (1887),
Eugen Bleuler (1908), Emil Kraeplin (1919), dan Kurt Schneider (1959); yang
masing-masing menyoroti
Skizofrenia
ini dari sudut pandang yang berbeda. Di kemudian hari ternyata ketiga sudut
pandang tersebut sebenernya merupakan kesatuan
1.2
PERMASALAHAN
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah
penulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
“Bagaimana
mekanisme terjadinya gangguan jiwa, Skizofrenia?”
1.3
TUJUAN
PENULISAN
Tujuan penulisan ini adalah untuk memperoleh
gambaran tentang terapi terhadap Skizofrenia tidak semata-mata dengan obat
saja, tetapi juga disertai jenis terapi lain misalnya psikoterapi,
psikoreligius terapi dan upaya-upaya rehabilitasi lainnya sehingga pendekatan
yang digunakan sifatnya holistik. Dengan pendekatan holistik ini diharapkan
penderita dapat kembali berfungsi secara wajar dalam kehidupannya sehari-hari
baik di rumah, di sekolah/kampus, di tempat kerja dan di lingkungan sosial
(masyarakat).
1.4
MANFAAT
PENULISAN
Penulisan ini diharapkan dapat
memberikan masukan bagi:
A. Penulis
sendiri sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan tentang GANGGUAN JIWA,
SKIZOFRENIA
B. Pembaca
sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan tentang GANGGUAN JIWA, SKIZOFRENIA
E. BAB 2 ISI:
2.1 ORGANOBIOLOGIK
Gangguan jiwa Skizofrenia tidak
terjadi dengan sendirinya begitu saja. Ada banyak faktor yang berperan-serta
bagi munculnya gejala-gejala Skizofrenia. Hingga sekarang banyak teori yang
dikembangkan untuk mengetahui penyebab (etiology)
Skizofrenia, antara lain :
1. Faktor
genetik (turunan/pembawa sifat).
2. Virus.
3. Auto-antibody.
4. Malnutrisi
(kekurangan gizi).
Sejauh manakah peran genetik pada
Skizofrenia? Dari penelitian diperoleh gambaran sebagai berikut :
a. Studi
terhadap keluarga menyebutkan pada orang tua 5.6%; saudara kandung 10.1%;
anak-anak 12.8%; dan penduduk secara keseluruhan 0.9% (Gottesman,Shields, 1982).
b. Studi
terhadap orang kembar (twin) menyebutkan
pada kembar identik (monozygote)
59.2%, sedangkan kembar non identik atau fraternal (dizygote) adalah 15.2% (Kendler,
1983).
Meskipun
diakui bahwa ada peran gen pada transmisi (pemindahan) Skizofrenia namun
ternyata tidak sepenuhnya memenuhi hukum Mendel.
Sebagai contoh misalnya kalau benar bahwa Skizofrenia itu di turunkan
(ditransmisikan) sepenuhnya melalui dominant
gene, maka 50% dari anak-anaknya akan menderita Skizofrenia manakala salah
satu orangtuanya menderita Skizofrenia. Namun dalam kenyataannya angka ini jauh
lebih rendah. Sebaliknya bila Skizofrenia itu diturunkan sepenuhnya melalui recessive gene, maka diharapkan 100%
anak-anaknya akan menderita Skizofrenia manakala kedua orangtuanya penderita
Skizofrenia. Namun dalam kenyataanya angka ini hanya 36.6%. Dengan demikian
jelaslah bahwa transmisi gen pada Skizofrenia sangat kompleks dan dipengaruhi
oleh banyak faktor lainnya.
Penelitian
lain menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan otak janin juga mempunyai
peran bagi timbulnya Skizofrenia kelar di kemudian hari. Gangguan perkembangan
otak janin ini muncul misalnya karena virus, malnutrisi (kekurangan gizi),
infeksi, trauma, toksin dan kelainan hormonal yang terjadi selama kehamilan.
Perihal
adakah hubungan antara faktor gen dengan gangguan perkembangan otak janin,
penelitian mutakhir menyebutkan bahwa meskipun ada gen yang abnormal, Skizofrenia tidak akan muncul kecuali disertai
faktor-faktor lainnya yang disebut faktor epigenetic.
Kesimpulannya adalah bahwa gejala Skizofrenia baru muncul bila terjadi interaksi antara gen yang abnormal dengan :
1. Virus
atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat mengganggu perkembangan otak
janin.
2. Menurunnya
auto-immune yang mungkin disebabkan
infeksi selama kehamilan.
3. Berbagai
macam komplikasi kandungan.
4. Kekurangan
gizi yang cukup berat terutama pada trimester pertama kehamilan.
Hingga
sekarang masih terjadi pertanyaan dan masih dalam penelitian perihal faktor
genetik (turunan) pada Skizofrenia. Beberapa pertanyaan berikut ini masih belum
dapat dijawab secara tuntas, antara lain :
a. Apakah
Skizofrenia ini merupakan penyakit keluarga.
b. Sejauh
mana peran-serta gen dan lingkungan sebagai faktor penyebab (etiology) Skizofrenia.
c. Andaikan
penyakit ini diturunkan, bagaimana mekanisme transmisi penyakit ini dalam
keluarga.
d. Bagaimana
mekanisme genetic dan lingkungan pada Skizofrenia.
e. Dimana
letak lokasi gen yang dimaksud
Sehubungan
dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, para ahli melakukan berbagai
penelitian untuk mendapatkan jawabannya, antara lain :
1. Studi
tentang riwayat keluarga (Family History
Studies).
2. Studi
keluarga (Family History).
3. Studi
adopsi (Adoption Studies).
4. Studi
kembar (Twin Studies).
5. Studi
terkait (Linkage Studies).
6. Studi
tentang biologi molekuler (Molekuler
Biology).
2.2 PSIKODINAMIK
Mengapa
seseorang jatuh sakit (menderita Skizofrenia) sementara orang lain tidak ?
Secara umum dan sederhana kejadian tersebut dapat diterangkan dengan
menggunakan rumus :
I
= Individu yaitu seseorang yang sudah mempunyai bakat-bakat tertentu,
kepribadian yang rentan (vulnerable personality) ataupun faktor genetik; yang kesemuanya itu merupakan faktor predisposisi yaitu kecenderungan untuk menjadi sakit.
kepribadian yang rentan (vulnerable personality) ataupun faktor genetik; yang kesemuanya itu merupakan faktor predisposisi yaitu kecenderungan untuk menjadi sakit.
S
= Situasi, yaitu suatu kondisi yang menjadi tekanan mental bagi individu yang
bersangkutan misalnya stressor psikososial.
R
= Reaksi, yaitu respons dari individu yang bersangkutan setelah mengalami
situasi yang tidak mengenakkan (tekanan mental) sehingga ia mengalami frustasi
yang pada gilirannya menjadi jatuh sakit.
Mekanisme
terjadinya Skizofrenia pada diri seseorang dari sudut psikodinamik dapat
diterangkan dengan dua buah teori; yaitu teori homeostatik-deskriptif (descriptive-homeostatic) dan
fasilitatif-etiologik (etiological-facilitative).
Dalam
teori homeostatik-deskriptif, diuraikan gambaran gejala-gejala (deskripsi) dari
suatu gangguan jiwa yang menjelaskan terjadinya gangguan keseimbangan (balance) atau homeostatic pada diri
seseorang, sebelum dan sesudah terjadinya gangguan jiwa tersebut.
Sebagai
contoh misalnya Eugen Bleurer (1911)
menguraikan gejala-gejala Skizofrenia itu dalam 2 bagian yang disebut gejala
primer dan sekunder. Selanjutnya dicoba menjelaskan mengapa dan bagaimana
gejala-gejala Skizofrenia itu bias muncul di dalam suatu system homeostatic.
Contoh lain misalnya apa yang dikemukakan oleh Sigmund Freud (1923), yang menyatakan bahwa gangguan jiwa paranoia
merupakan jelmaan dari proyeksi laten dan pembalikan dari dorongan-dorongan
homoseksual.
Dalam
teori fasilitatif-etiologik, diuraikan faktor-faktor yang memudahkan
(fasilitasi) penyebab (etiologi) suatu penyakit itu muncul, bagaimana
perjalanan penyakitnya dan penjelasan mekanisme psikologis dari penyakit yang
bersangkutan. Sebagai contoh misalnya menurut Melanie Klein (1926), bahwa Skizofrenia muncul karena terjadi
fiksasi pada fase paranoid-schizoid pada perkembangan awal masa bayi. Teori
lain menyatakan bahwa pada penderita Skizofrenia memang sudah terdapat faktor
psikogenetik sebelumnya.
2.3 PSIKORELIGIUS
Manusia adalah makhluk fitrah, sejak manusia lahir sudah
dibekali dengan dorongan-dorongan atau Nafsu
seperti nafsu makan, minum, agresif dan nafsu seksual. Tanpa adanya dorongan Nafsu sebagaimana contoh di muka, maka
manusia tidak akan dapat mempertahankan diri keberadaannya di dunia. Misalnya
bila seseorang kehilangan nafsu makan dan minum dengan sendirinya kondisi fisik
melemah yang akan memudahkan infeksi penyakit dan bila hal ini berkepanjangan
dapat menyebabkan kematian. Bila seseorang kehilangan nafsu makan agresivitas,
maka ia tidak mampu mempertahankan diri dari serangan agresivitas pihak lawan,
hal ini dapat dilihat di dalam peperangan. Bila seseorang kehilangan nafsu
seksual maka ia tidak tertarik pada lawan jenis sehingga tidak terjadi
perkawinan dan tidak ada keturunan.
Manusia yang fitrahnya sebagai
makhluk berke-Tuhan-an (QS 30:30) secara ilmiah didukung oleh para ilmuwan
antara lain A. Einstein (1905), H. Clinbell (1981), A. El Azayam (1989), D.B
Larson (1992), R Douglas (1993), V. Sierra (2000), S. Hawkings (2000) dan
masih banyak lagi yang lainnya.
Pemahaman agama dalam pengamalan
praktek kedokteran jiwa (Psikiatri) sudah merupakan secara rutin di dalam
Konferensi Internasional Psikiatri dan merupakan topic khusu yaitu Religion and Psychiatry, misalnya oleh World
Psychiatry Association dan
American Psychiatry Association. Bahkan
ada topik yang lebih menarik lagi yaitu bahasan untuk mencari tahu hubungan
antara otak dan agama yang di yakini adanya titik pusat ke-Tuhan-an di struktur otak (God
Spot), sebagaimana dikemukakan dalam lokakarya Brain dan Religion (v. Monakow, Goldstein, A. Harrington, APA 1997).
Dalam praktek kedokteran jiwa
(Psikiatri) sering dijumpai pada penderita gangguan jiwa Skizofrenia terdapat
gejala-gejala waham atau delusi keagamaan yang patologis sifatnya, misalnya
merasa dirinya sebagai utusan Tuhan (Nabi) bahkan sampai pada “keyakinan”
dirinya Tuhan. Dalam masyarakat juga sering dijumpai kelompok-kelompok dengan
label “agama” yang dalam prakteknya justru menyimpang dari agama yang sesungguhnya
(agama sesat/sempalan). Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap
kelompok atau sekte ini ternyata pada diri para pemimpin terdapat kelainan
(psikopatologi) terhadap keyakinannya pada Tuhan yang mempengaruhi para
pengikutnya ke jalan yang sesat, antara lain melakukan :ritual keagamaan”
(pemujaan) atau kultus terhadap pemimpin kelompok yang jauh dari moral etika
agama yang sesungguhnya, sebagai contoh misalnya aliran Church of Scientology, Children of God, Unification Church dan Hare
Krishna. Bahkan ada aliran (sekte) sesat yang melakukan bunuh diri missal,
misalnya aliran James Jones (1977), David Koresh (1995) dan lain jenisnya.
Pencegahan
agar seseorang tidak jatuh sakit, meningkatkan kemampuan seseorang dalam
mengatasi penderitaan bila ia sedang sakit serta mempercepat penyembuhan selain
terapi medis yang diberikan. Selanjutnya Snyderman
(1996) menyatakan bahwa terapi medis tanpa agama (doa dan dzikir) tidaklah
lengkap, sementara agama (doa dan dzikir) tanpa terapi medis tidaklah efektif.
2.4 PSIKOSOSIAL
Sebagaimana
rumusan yang telah diuraikan di muka yaitu faktor “S” (Situasi atau kondisi
yang tidak kondusif pada diri seseorang) dapat merupakan stressor psikososial. Stresor psikososial adalah setiap keadaan ayau
peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang; sehingga orang
itu terpaksa mengadakan penyesuaian diri (adaptasi) untuk menanggulangi
stressor (tekanan mental) yang timbul. Namun, tidak semua orang mampu melakukan
adaptasi dan mampu menanggulangi sehingga timbullah keluhan-keluhan kejiwaan,
antara lain berbagai jenis gangguan jiwa yang salah satunya adalah Skizofrenia.
Pada umumnya jenis stresor
psikososial yang dimaksud dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Perkawinan
Berbagai permasalahan perkawinan merupakan sumber
stres yang dialami seseorang; misalnya pertengkaran, perpisahan, perceraian dan
lain sebagainya. Stresor perkawinan ini dapat menyebabkan seseorang jatuh
sakit.
b. Problem orangtua
Permasalahan yang dihadapi orangtua, misalnya tidak
punya anak, kebanyakan anak dan lain sebagainya. Permasalahan tersebut di atas
bila tidak dapat diatasi oleh yang bersangkutan dapat merupakan sumber stres
yang pada gilirannya seseorang dapat jatuh sakit
c. Hubungan interpersonal (antar
pribadi)
Gangguan ini dapat berupa hubungan dengan kawan
dekat yang mengalami konflik, atau konflik dengan teman dan lain sebagainya.
Konflik antar pribadi ini dapat merupakan sumber stres bagi seseorang yang bila
tidak dapat diperbaiki (silaturahmi) pada gilirannya yang bersangkutan dapat
jatuh sakit.
d. Lingkungan hidup
Faktor lingkungan hidup tidak hanya dilihat dari
lingkungan itu bebas polusi, sampah dan lain sejenisnya tetapi terutama kondisi
lingkungan sosial di mana seseorang itu hidup. Beberapa contoh masalah
lingkungan hidup yang dapat menjadi stresor pada diri seseorang antara lain
masalah prumahan dan lain sebagainya.
e. Penyakit fisik atau cidera
Sumber stres yang dapat mempengaruhi kondisi
kejiwaan seseorang antara lain penyakit (terutama penyakit yang kronis),
jantung, kanker, kecelakaan, operasi, dan lain sebagainya
F. BAB 3 PENUTUP:
3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan
pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa anggota keluarga sangat
penting untuk menunjukkan pola pikir, perasaan dan perilaku yang tidak wajar.
Berkat kemajuan ilmu kedokteran jiwa dan ilmu obat-obatan, ternyata telah
terbukti secara ilmiah bahwa psikopatologi gangguan jiwa Skizofrenia telah
diketahui, demikian pula dengan terapi pendekatan holistik.
3.2 SARAN
Berdasarkan
kesimpulan yang telah dikemukakan di atas, maka penulis memberikan beberapa
saran:
a. Banyak
jaga kesehatan
b. Jangan
terlalu banyak memikirkan hal yang tidak baik
c. Mendekatkan
diri kepadan Tuhan
G. DAFTAR PUSTAKA:
Al
Qur’an
Alazayam,
G. : “Religion, Spirituality and Mental Health : An Islamic Overview”. World Islamic Association for Mental Health;
APA Annual Meeting, 1995.
American
Psychiatric Association : “Religion Issues in Psychiatric Practice”. APA Annual
Meeting, 1992/93/94/95/96/97/2000.
Douglas,
R. : “Religion and Psychiatry : Clinical Models of ad Partnership”. APA Annual
Meeting, 1993.
Komentar
Posting Komentar